Add to Technorati Favorites   Personal Blogs   Top Blogs   Blog directory   Blogs Topsites - TOP.ORG   Personal blogs & blog posts   kehidupan, hidup   Personal Blogs - BlogCatalog Blog Directory
Tampilkan postingan dengan label Permenungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Permenungan. Tampilkan semua postingan

06 September, 2009

Apa Bedanya Orang Sama Bebek ?

kehidupanYa beda lah yauw... , anak TK juga tauk !

Orang punya mulut, bebek paruh. Orang punya tangan, bebek sayap. Orang punya rambut, bebek bulu. Saya sih yakin, kalau ini sebuah teka-teki, para sobat bakal dengan mudah menyiapkan ratusan jawaban yang valid, termasuk orang punya otak, bebek nggak (nah, yang ini nggak bener...).

Memang judulnya begitu, tapi sebenarnya inti posting ini bukan mau menekankan bedanya orang sama bebek, yang semuanya udah tahu jawabnya. Saya terisnprirasi oleh tulisan Mister Eckhart Tolle dalam bukunya "The Power of Now", yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang bisa dipelajari dari kehidupan bebek untuk meningkatkan kemanusiaan kita sebagai orang.


Nah, gini ya cerita dari si Mister, yang saya bawakan kembali dengan gaya sedikit bebas.


Bebek yang Memiliki Batin Manusia

Mister nenyampaikan pengamatannya bahwa setelah dua ekor bebek berkelahi, mereka akan langsung berpisah dan berenang ke arah yang berlawanan. Terus, dua-duanya bakal mengibaskan sayap-sayapnya dengan keras beberapa kali, untuk melepaskan energi berlebih yang terbentuk selama perkelahian tadi. Setelah mereka mengibaskan sayap, mereka kembali mengapung dengan penuh kedamaian, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Coba kalau bebek itu punya pikiran kayak orang, mungkin selesai berkelahi salah satu bebek akan bercerita dalam benaknya, "Gua nggak nyangka dia ternyata begitu, seenaknya aja merebut tempat gua. Dia pikir yang punya kolam ini dia sendiri aja, apa. Serakah banget, gua nggak bakal percaya dia lagi. Lain kali pasti dia akan mencoba hal lain buat mengganggu gua, gua yakin dia udah merencanakan sesuatu. Tapi bukan gua namanya kalau gua diam aja. Gua bakal kasih dia pelajaran!".

Demikian seterusnya pikiran memutar kisah-kisah itu, masih memikirkan dan membicarakannya selama berhari-hari, berbulan-bulan, atau beberapa tahun kemudian, sementara pertengkaran nggak pernah usai. Emosi dan ego bebek menguasai dirinya, merangkai cerita yang merangsang emosi dan ego selanjutnya. Alangkah repotnya hidup si bebek jika dia memiliki batin manusia. Tapi, seperti inilah kebanyakan manusia menjalani hidupnya setiap saat, termasuk saya yang nulis. Nggak ada situasi atau kejadian yang pernah benar-benar selesai. Pikiran dan hasil pikiran membentuk tema "Saya dan Cerita Saya", yang membuat hal ini terus berlangsung.

Mister mengajarkan bahwa setiap bagian dari alam, setiap bunga dan pohon, dan setiap hewan memiliki pelajaran penting untuk diajarkan kepada kita jika kita mau mengerti, melihat, dan mendengarkan. Pelajaran dari bebek adalah ini: "Kepakkan sayapmu - yang diartikan sebagai "lepaskan cerita tersebut" - dan kembali lah pada satu-satunya tempat kekuatan, yaitu saat ini".


Perbedaan Manusia dengan Bebek

Meskipun si Mister sangat jauh lebih ngetop dari saya, punya jutaan penggemar, dan ahli di bidang perbebekan ini (ha ha ha), namun saya kurang sependapat sama si Mister menggunakan cerita ini sebagai analogi bagi kita untuk lepas seluruhnya dari masa lalu. Saya anggap si Mister terlalu menyederhanakan persoalan, dan dengan sedikit tersinggung saya akan berkata :"Emangnya gua bebek !?". Nah, emosi lagi .......

Sebenarnya, ada dua pertimbangan objektif (setidaknya menurut saya) yang membuat cerita diatas terlalu menyederhanakan persoalan :

1. Otak manusia bukan otak bebek
Manusia dewasa memiliki volume otak sekitar 1.350 cc, sementara seekor bebek dewasa paling-paling memiliki volume otak sebesar 25 cc. Jadi, volume otak manusia sekitar 54 kali volume otak bebek. Kalau otak dianggap sebuah komputer, bebek vs manusia mirip dengan kalkulator vs kompu pentium IV (he he...). Dengan perbandingan tersebut, respon manusia terhadap suatu masalah jelas akan jauh lebih kompleks daripada respon bebek terhadap suatu masalah. Manusia punya banyak memori masa lalu dalam otaknya, sementara bebek cuma punya sedikit. Itulah bedanya orang sama bebek. Kalau manusia disuruh jadi kayak bebek, mungkin kita nggak akan pernah beranjak dari sejarah sebagai manusia gua.

2. Manusia punya pikiran, sementara bebek cuma punya naluri

Volume otak yang kita miliki membuat kita mampu untuk berpikir, termasuk menganalisa, bercerita, bergumam, merancang sesuatu dengan baik, sementara bebek lebih menggunakan nalurinya lantaran otaknya tidak dirancang untuk berpikir. Karena kemampuan manusia untuk berpikir, manusia memiliki ego yang menghasilkan segala emosi seperti: kemarahan, hawa napsu, keserakahan, ambisi, dan lain-lain. Nah, ini yang bebek nggak punya. Menyederhanakan manusia menjadi bebek akan kembali mengundang cemoohan : "emangnya gua bebek...".
Saya yakin, bang Rommi Rafael yang jago menghipnotis orang, nggak bakal bisa menghipnotis seekor bebek, karena hipnotis "menyerang" pikiran bawah sadar, sementara bebek nggak punya pikiran bawah sadar, he he he ...


Namun, terlepas dari penyederhanaan tersebut, yang saya yakin mister Eckhart juga tidak bermaksud begitu, memang ada pelajaran berharga dari cerita itu bagi kehidupan kita, yakni: alangkah baiknya jika kita mampu melakukan self-filtering, sehingga segala kejadian buruk yang dicerna oleh pikiran tidak menghasilkan emosi-emosi yang melayani ego (seperti contoh diatas: kemarahan dan prasangka), tetapi menghasilkan pembelajaran bagi kehidupan mendatang seperti kewaspadaan, kemandirian, kebijaksanaan, dan lain-lain. Nah, ini baru susah !

Harus saya akui, dalam hal ini kita tidak lebih baik dari seekor bebek. Dalam ranah pribadi, manusia bergumul dengan luka batin dan trauma karena kurang berfungsinya self-filtering ini. Dalam ranah sosial, entah berapa banyak kecurigaan antar kelompok, prasangka akibat brain storming (disengaja maupun tidak disengaja), pengkotak-kotakkan, yang memicu perseteruan dan perang antara saudara sendiri. Terlepas dari kepentingan politik tertentu yang mungkin menungganginya, di negara ini cukup banyak konflik yang pernah mencuat seperti konflik Ambon, Poso, Sampit, dan lain-lain. Internationally speaking, perang dingin AS-Uni Soviet, perang berlatar belakang agama, ketegangan antar bangsa di dunia. Cerita bebek diatas memiliki peran di balik segala hal tersebut, walaupun tingkat dominasinya berbeda antara kasus yang satu dengan kasus lainnya.


Saya Harus Lebih Baik dari Bebek !

Karena saya nggak mau kalah sama bebek, saya berikrar untuk menjadi lebih baik dari bebek. Bebek hanya sedikit menyimpan masa lalunya, tapi banyak masa lalu yang tersimpan dalam memori saya. Dengan mencoba menyibak kembali segala cerita pahit masa lalu dari pikiran sadar maupun bawah sadar, saya harus menjadikannya alat pembelajaran daripada pemicu emosi semata. Saya memiliki rencana masa depan, dan saya berharap pelajaran masa lalu (pengalaman) membuat saya lebih matang dalam segala tindakan untuk masa depan yang dicita-citakan. Saya menang dua langkah, karena bebek nggak punya future planning.

Dan seperti seekor bebek, ketika kejadian buruk memicu emosi dan kemarahan, saya berharap bisa berteriak kencang-kencang melepaskan semua emosi tersebut (bebek nggak bisa berteriak, cuma bisa mengepakkan sayap), untuk kemudian mengambil pelajaran dari kejadian tersebut alih-alih menyimpan emosi tersebut berlarut-larut.

Apa bisa ya saya lebih baik dari bebek ?

Walahualam ..... , jangan pernah anggap remeh seekor bebek !




Baca Selanjutnya...

30 Agustus, 2009

Cincin Syukur dalam Kehidupan

kehidupanRenungan pagi, cerita fiksi kehidupan.

Alkisah, ada semacam cincin yang terbuat dari perak. Cincin tersebut tidak kelihatan istimewa, mirip cincin-cincin biasa yang dijual di pinggiran tempat wisata, namun semua orang sangat menginginkannya, karena daya mukjizat dari cincin tersebut. Menurut orang, barang siapa yang memakai cincin tersebut, akan mendapatkan kedamaian hidup. Mata cincin tersebut terbuat dari batu akik. Satu hal yang membedakan cincin tersebut dari cincin-cincin lainnya, adalah ukiran huruf di dalam batu akik yang berbunyi, "INI, JUGA, AKAN BERLALU".


Saya juga punya satu, tapi tidak selalu saya pakai, karena selalu saya tanggalkan pada saat malam menjelang tidur, dan seringkali lupa untuk memakai kembali esok harinya. Tapi swear, pada saat saya memakainya, hidup saya terasa berbeda.

Ketika kesulitan menerpa hidup saya, saya cukup memandang mata akik tersebut, dan membaca, "ini, juga, akan berlalu", seketika saya sadar bahwa kesulitan ini akan berlalu juga pada akhirnya (dan itu selalu terjadi), sehingga saya diberi ketenangan menghadapinya.

Ketika kehidupan membawa saya ke puncak kesenangan, sehingga merasa perlu untuk berpesta untuk merayakannya, mata akik akan memancarkan cahaya sehingga terbaca jelas oleh saya, "ini, juga, akan berlalu". Saya jadi tidak lupa diri karenanya.

Dalam setiap hal yang saya hadapi, ketika saya memakai cincin tersebut, saya akan selalu memandang mata akik sejenak sebelum melakukan sebuah respon, dan saya selalu menemukan beribu jawaban dari segala hal, hanya dengan membaca satu kalimat pendek tersebut, "ini, juga, akan berlalu".

Masa kecil yang indah akan berlalu, masa remaja tidak terasa akan berlalu, kedewasaan yang penuh tanggung jawab dan beban juga akan berlalu, masa tua akan berlalu, dan hidup kita pun, juga, akan berlalu.

Saya terlalu bodoh untuk bercerita tentang surga dan neraka, tentang dosa dan pahala, namun satu hal yang saya dapatkan ketika memakai cincin tersebut, adalah kesadaran bahwa hidup ini tidak kekal, terisi penuh oleh gelombang kesenangan dan ketidakbahagiaan yang juga tidak kekal, dan kedamaian hidup bukan berasal dari hal-hal material yang telah kita capai atau peroleh, namun berasal dari kemampuan untuk bersyukur dan menikmati saat ini apa adanya. Cincin itu, dengan kata-kata ajaibnya "ini, juga, akan berlalu", telah membantu saya untuk belajar mengenai arti kehidupan.

Cincin itu, saya namakan cincin syukur. Semoga saya tidak lupa untuk memakainya setiap hari, sehingga saya selalu dapat berkata, "ini, juga, akan berlalu".

Bagi semua sobat Muslim, selamat menunaikan ibadah puasa, semoga puasa ini mengasah ketajaman rasa syukur sehingga membawa berkat kehidupan yang melimpah untuk kita semua.




Baca Selanjutnya...

08 Maret, 2009

Kehidupan adalah Penitian Takdir

kehidupan
Saya dan para sobat mungkin pernah beberapa kali atau bahkan seringkali mengikuti seminar motivational. Pada dasarnya, meskipun dengan cara penyampaian yang berbeda-beda, para motivator biasanya menyampaikan bahwa kita harus mengubah cara hidup kita menjadi lebih produktif, berpikir positif, memiliki tujuan, bertindak, dan bertindak.

Tidak ada satu hal pun dari semua hal yang disebutkan diatas, yang saya tidak setuju. Saya fully agree dengan mereka, dan saya mencoba mengimplementasikan petunjuk mereka dalam kehidupan saya sehari-hari. Tapi, bagi saya pribadi, ada satu pendapat dari beberapa motivator yang bertentangan dengan dengan prinsip hidup saya, yaitu perkataan : "Akan menjadi apa kita 5 atau 10 tahun yang akan datang, tergantung dari apa yang kita kerjakan pada saat ini !"

Terus terang, saya memiliki opini hidup yang berbeda dengan pendapat mereka. Kalau pendapat mereka dianalogikan, ceritanya akan begini : Kalau kita mulai dari titik A dalam hidup kita, kemudian memiliki pilihan tindakan B dan C, maka kedua tindakan tersebut akan membawa konsekuensi yang berbeda bagi hidup kita. Misalnya, jika memilih B maka kita akan tiba di persimpangan pilihan D dan E, sementara jika memilih C maka kita akan tiba di persimpangan F dan G. Demikian seterusnya sehingga hidup kita akan melewati percabangan-percabangan yang semakin melebar, tergantung pilihan kita. Karena itulah, kita 10 tahun yang akan datang tergantung dari pilihan/tindakan yang kita lakukan pada saat ini.

Bagi saya, hidup/takdir sudah digariskan, dan dalam hidup kita hanya bergerak melewati titik-titik takdir kita. Analoginya seperti ini: Kita mulai dari titik A, memiliki pilihan B dan C. Bila memilih B maka yang mengikutinya adalah pilihan D dan E, sebaliknya jika memilih C maka yang mengikutinya adalah pilihan F dan G. Nah, perbedaannya, bila pendapat mereka pilihan-pilihan tersebut akan membuat cabang hidup kita semakin melebar dan berbeda, maka saya berpendapat, apapun pilihan kita, setelah melewati beberapa percabangan pilihan lain, takdir akan membawa kita ke satu titik yang sama (misalnya titik K), dan itu harus kita lalui. Demikian, kita akan "harus" melewati titik-titik takdir itu seumur hidup kita.

Pemahaman akan hidup yang seperti ini baru saya temukan lewat permenungan-permenungan, kurang lebih 10 - 15 tahun yang lalu, dan tidak datang dengan sendirinya. Pada saat itu, saya merenungkan perjalanan hidup saya sejak kecil dan perjalanan hidup beberapa orang lain yang bisa saya ketahui sejak mereka kecil. Saya menemukan, bahwa begitu banyak hal-hal "kebetulan" yang menggiring kita ke arah kejadian atau situasi tertentu beberapa waktu kemudian, dan setelah itu banyak "kebetulan-kebetulan" lainnya yang menggiring kita ke arah situasi lainnya. So, ada invisible hand yang sebenarnya mengarahkan jalan hidup kita, walaupun kelihatannya kita memiliki banyak pilihan setiap hari. Itulah yang disebut dengan destiny / takdir.

Jadi, menurut saya, hidup kita sudah digariskan, dan akan selalu melewati titik-titik yang ditakdirkan, apapun yang kita lakukan.

Lalu, kalau semua sudah digariskan, untuk apa berusaha/memilih ?

Manusia memiliki kehendak bebas (untuk memilih atau merespon suatu hal), dan kehendak bebas tersebut merupakan anugerah yang tidak terhingga, bukan untuk merubah takdir kita, namun untuk membuat kita tetap hidup. Karena, inti dari kehidupan bukanlah pada apa yang kita dapatkan, namun pada proses naik dan turun yang terjadi dan kesadaran kita mempergunakan kehendak bebas yang dianugerahkan. Walaupun saya meyakini bahwa takdir jalan hidup sudah digariskan, namun saya tidak pernah menjadi seorang fatalis yang tidak berbuat apa-apa. Bagi saya, tugas saya adalah berusaha dan memilih sebaik mungkin, sedangkan sisanya bukanlah hak dan urusan saya.

Beberapa hari yang lalu sempat menonton filem India yang sangat bagus, Slumdog Millionaire, menceritakan seorang pemuda yang berkat "pengalaman-pengalaman" masa lalunya berhasil memenangkan hadiah terbesar, karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan "kebetulan" diketahui jawabannya lewat pengalaman-pengalaman tersebut. Pertanyaannya, betulkah pengalaman tersebut adalah "kebetulan", ataukah "titik-titik takdir" yang menggiring takdir pemuda tadi menjadi pemenang acara tersebut dan menjadi milyarder?

Saya lebih meyakini jawaban yang kedua. Bagaimana dengan Sobat ?

Baca Selanjutnya...

05 Maret, 2009

Life is beautiful

kehidupan

Hari ini saya terbangun jam setengah empat subuh, dan nggak bisa tidur lagi. Entah mengapa, mungkin karena pekerjaan di kantor yang cukup menumpuk dan memerlukan konsentrasi yang tinggi, jadi terbayang-bayang dan membuat cepat terbangun. Yaa, begitu lah keseharian saya, penuh dengan rutinitas dan masalah yang membuat saya harus berpikir mengenai target, tagihan, negosiasi ketat, approaching, dan detail-detail kecil lainnya. Setelah mikir ini mikir itu, akhirnya bosan sendiri, saya buka pintu belakang rumah, dan naik ke teras atap belakang tempat jemur pakaian. Di situ saya berbaring memandang langit.

Cuaca mendung, langit tertutup awan sehingga tampak biru kehitaman dan kosong. Sekitar sepuluh menit berlalu, saya terus memandangi kekosongan di atas sana. Tak ada yang lain, hanya saya dan langit. Saat mata memandang, pikiran menerawang, demikian luasnya kekosongan di hadapan saya entah di mana batasnya. Bumi, udara, bulan, planet-planet, tatasurya, galaksi. Ah, betapa kecilnya saya dalam semesta ini !

Sementara saya selalu berkutat dengan pikiran serta permasalahan dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, saya seringkali lupa bahwa kehidupan adalah take it for granted, semua diberikan secara cuma-cuma oleh Yang Maha Kuasa, bagi setiap orang termasuk saya, untuk dinikmati. Dalam kekerdilan sebuah debu alam semesta, saya seringkali terlelap, hanyut dalam rutinitas kehidupan yang kurang berarti, sementara sejuta keindahan yang lewat berulang-kali di depan mata kerap terlewatkan oleh padatnya jadwal dan janji.

Angin berhembus sedikit, dan saya coba nikmati setiap hirupan napas di pagi buta ini. Dalam kekosongan, di setiap hirupan napas, ada rasa syukur yang terlepas.
Syukur, karena saya masih dapat menikmati hirupan napas kehidupan pada hari ini.
Syukur, karena saya masih dapat bercengkrama dengan istri dan anak saya setiap hari.
Syukur, karena saya memiliki keluarga besar dan teman-teman yang perduli.
Syukur, karena setiap permasalahan membawa saya meloncat menuju tahap kedewasaan yang lebih tinggi.
Syukur, karena semua rutinitas ternyata tidak begitu penting dibandingkan kehidupan itu sendiri.

Nasib telah digariskan, dan tugas saya adalah merespons. Tiada positif, tiada negatif. Tiada baik, tiada buruk. Pagi ini saya bersyukur, dan pasrah kepada Dia yang Maha Tinggi. Keseharian adalah untuk dinikmati, problema adalah permainan, kebahagiaan adalah tujuan.

Turun dari teras belakang, sebelum siap-siap mandi, saya sempatkan menulis ini. Hari ini saya pergi ke kantor, mudah-mudahan bisa berbagi keceriaan dengan semua orang yang saya temui, karena keceriaan membawa kebahagiaan. Sore nanti pulang kerja mau nongkrong-nongkrong dulu sama teman-teman, ketawa-ketiwi dulu.

Life can be beautiful or bad, the only question is how we take our way to face this life. I got the answer this morning, that life is beautiful for me. Just hoping beautifulness of this life also come to all of you. Have a nice beautiful life today !


Baca Selanjutnya...

03 Februari, 2009

Kehidupan yang Penuh dengan Syukur

Dalam kehidupan sehari-hari, acapkali kita mengalami hambatan, tantangan, kendala, dan masalah yang sepertinya sangat sulit untuk kita lewati atau pecahkan. Situasi-situasi tersebut bahkan sering kali membuat kita menyesali seluruh kehidupan kita, dan meratapi kelahiran kita di dunia ini. Semuanya seakan tidak berjalan dengan benar dan tidak ada yang berpihak pada kita.

Memang, kehidupan bukan hanya menghadirkan kesenangan dan kebahagiaan di dalamnya, namun juga menyimpan berbagai masalah. Roda hidup terus berputar, naik dan turun, itu adalah takdir yang tidak dapat kita hindari. Bagian yang terpenting dalam hidup sebenarnya bukan lah up and down tersebut, namun bagaimana cara kita menyikapi segala situasi ada di hadapan kita.

Saya teringat sebuah cerita mengenai seorang tahanan yang sudah dijatuhi vonis mati, namun tetap tidak merasa takut. Pada suatu hari dia tampak sedang bermain gitar di tengah-tengah lapangan penjara. Sejumlah besar tahanan lain berkumpul di sekelilingnya mendengarkan alunan musik dan di bawah pengaruh musik itu ketakutan mereka menjadi hilang. Ketika para sipir melihat hal itu, mereka melarang orang itu bermain gitar.

Hari berikutnya, orang itu kembali lagi ke tempat yang sama, bernyanyi dan memainkan gitar dengan tahanan lain yang lebih besar jumlahnya. Dengan marah, para sipir menyeretnya dan memotong jari-jari tangannya.

Namun esoknya dia kembali lagi dan bernyanyi sambil bermain musik sedapat-dapatnya walaupun jarinya penuh darah. Tahanan lain yang datang di sekelilingnya bersorak-sorai. Para sipir menyeretnya lagi dan membanting gitarnya sampai hancur.

Pada hari berikutnya, tanpa gitar, dia bernyanyi dengan seluruh perasaannya, begitu merdu dan menyentuh hati ! Tahanan lain menggabungkan diri dan turut bernyanyi. Karena hal ini, para sipir memotong lidah orang itu. Sekarang orang itu tidak dapat lagi bermain gitar dan bernyanyi karena segalanya sudah direnggut darinya.

Keheningan menyelimuti seluruh penjara !

Namun, alangkah herannya semua orang, ketika keesokan harinya dia kembali ke tempat yang sama sambil berlenggang dan menari diiringi musik yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri. Melihat hal itu, semua tahanan berkumpul saling bergandengan tangan, menari di sekeliling dirinya yang berdarah dan hancur, sementara para sipir berdiri terpaku penuh kekaguman !

Dalam kehidupan saya yang juga penuh masalah, ada beberapa hikmah yang dapat direnungkan dari cerita diatas. Ketika manusia sudah menjalani hidup dengan penuh syukur, maka dia telah menjadi orang yang “bebas” dari segala masalah dan situasi. Perasaannya tidak lagi dipengaruhi oleh hal-hal yang berasal dari luar dirinya, namun ditentukan oleh dirinya sendiri. Situasi menyenangkan tidak membuatnya lupa diri, dan situasi sulit tidak membuatnya jatuh. Pada saat itulah, dia juga akan menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekelilingnya, untuk dapat menyikapi kehidupan secara lebih baik lagi.

Walaupun terkadang sulit untuk dilakukan, mudah-mudahan cerita tersebut dapat menjadi satu inspirasi bagi kita semua, untuk mencoba menjalani kehidupan ini dalam rasa syukur sehingga apapun masalah yang kita hadapi tidak membuat kita menjadi putus asa dan hilang harapan.

Semoga !


Baca Selanjutnya...

20 Januari, 2009

Kembali ke Fitrah Kehidupan

Lagi bengong-bengong sendirian, saya tiba-tiba teringat sama satu dongeng analogi tentang kehidupan yang pernah saya baca di beberapa buku.

Alkisah, suatu masa Tuhan menciptakan manusia, dan jreeengg . . . jadilah manusia.

Lalu Tuhan ngomong sama ciptaanNya,”Aku kasih kamu umur 30 tahun, hidup yang senang ya di dunia!”
Manusia bahagia, dan memulai kehidupannya.

Baru seminggu hidup, manusia datangin Tuhan dan ngeluh, “Han, saya capek nih mesti cari makan ngebajak sawah, kasih sesuatu donk buat bantuin saya”.

Tuhan menciptakan kerbau, dan dikasih umur 30 tahun. Kerbau nanya, “Han, apa kerjaan saya di dunia?”.
“Kamu mesti kerja bantuin manusia ngebajak sawah!” jawab Tuhan.
Si kerbau mikir “ . . . waduh, nggak tahan saya 30 tahun mesti kerja terus, ogah ah . . . “, terus nawar “Han, saya hidup 10 tahun aja deh”

Permohonan dikabulkan, umur kerbau jadi 10 tahun. Tapi abis itu Tuhan punya sedikit problem, kelebihan stok umur 20 tahun yang udah terlanjur dikasih, mesti dialokasikan. Tuhan nanya manusia, “Cing, mau nggak umur kamu ditambah 20 tahun?”
Nggak pikir panjang, si Encing langsung bilang, “Ok!”. Enak kok kehidupan di dunia.
Hiduplah manusia dibantuin si kerbau.

Seminggu kemudian, manusia ngeluh lagi karena bosen jaga rumah, “Han, bosen nih jaga rumah terus, bisa bantu nggak?”
Diciptakanlah anjing, dikasih umur 30 tahun. Anjing yang pinter tahu kerjaannya Cuma jagain rumah, nawar juga supaya umurnya 10 tahun aja. Dikabulkan !
Another 20 tahun stok disamber sama manusia.

Baru seminggu diam, manusia ngeluh lagi, pingin punya teman main. Monyet tercipta, dikasih umur 30 tahun nawar jadi 10 tahun, sisanya diambil manusia yang maruk.

Demikian, masa berlalu, manusia punya umur 90 tahun:

30 tahun pertama, dia betul-betul menjadi manusia, masa kanak-kanak yang lugu, masa sekolah yang menyenangkan nggak banyak pikiran, dan tahun-tahun pertama kerja yang menantang.

20 tahun berikutnya, mesti kerja keras kayak kerbau, karena udah banyak tanggungan (istri, anak, kartu kredit, hutang, etc). Karyawan & eksekutif kerja keras kadang saling sikut buat dapat promosi jabatan dan gaji yang lebih besar. Profesional macam dokter-konsultan-artis-pengacara banting tulang cari nama naikin peringkat kadang dengan usaha yang sangat “keras”. Pengusaha sibuk berkutat cari profit, itupun berkali-kali sengsara kehantem krisis (mate deh gw!)

20 tahun selanjutnya, udah terlalu capek kerja keras, jadi kayak anjing jagain rumah anaknya atau jagain cucu.

Dan 20 tahun terakhir, “Ngaca dunk, muka dah kayak monyet tuh!”

Sedikit permenungan, benarkah itu fitrah kehidupan manusia? 30 tahun sebagai manusia yang bebas, lalu tahun-tahun berikutnya disetir sang waktu dan dipaksa jadi kayak kerbau, anjing, dan monyet?

Nope, balik lagi ke awal dongeng, Tuhan berkata “ . . . hidup yang senang ya di dunia!”
Fitrah manusia selama kehidupan, adalah hidup senang dan bahagia. Pertanyaannya buat orang yang pragmatis, bisakah . . .?

Kalo kamu nanya ke saya, jawaban saya sederhana aja, “Saya pingin tiba-tiba dapat duit 20 milyar – terserah nggak tahu dari mana, akan saya simpan di bank, tiap bulan dapat bunga atau bagi hasil syariah (200 juta sebulan, Cing. Udah dihitung ! ), dan main + jalan-jalan kayak anak sekolah touring,nggak ada pikiran, ha ha ha . . .

Emang dunia mimpi, apa? he he he . . . ; jelas keinginan saya tidak fisibel ditinjau dari analisis apapun juga.

Tapi, kalau umur kita bisa sampai 90 tahun, atau banter-banter 70 tahun deh, selayaknya kita bertanya untuk kembali ke fitrah awal, bahwa yang kita cari adalah kebahagiaan, sementara sekarang kita mungkin sudah terlanjur menjadi sang kerbau.
Terus gimana donk?

Sekedar sharing, ada beberapa langkah dan permenungan yang mungkin bisa dilakukan;

Pertama, adalah mencoba mensyukuri apa yang telah kita dapat dan lakukan sampai saat ini. Itu adalah langkah awal yang paling simpel. Dengan mencoba bersyukur (walaupun pura-pura, gpp), minimal kita dapat sedikit mendekat ke fitrah karena manusia yang bersyukur biasanya nggak terlalu ambisius. Sehinggaaaa …… , kejadian dan usaha nggak wajar buat sikut kiri sikut kanan, dan pengorbanan berlebihan bisa ditendang dari kehidupan sehari-hari.

Langkah kedua, bertanya lagi dalam hati kecil kita, benarkah apa yang sekarang menjadi profesi kita, adalah sesuai dengan minat/intensi kita? Kalau jawabannya “Yes”, beruntung deh kamuuu. Kalau kita bekerja di bidang yang memang kita sukai, maka kita bekerja dengan hati, dan pekerjaan merupakan beban yang minimal bagi kehidupan kita, jadi kayak main aja … gittuu … . Trus, kalau jawabannya “NO” gimana? Beranikah kita keluar dari zona nyaman dan memikirkan lagi hal-hal apa yang sebenarnya kita sukai dalam hidup, lalu kembali merancang dari titik yang lebih "tidak nyaman"?

Langkah ketiga, kebahagiaan datang salah satunya dengan cara memberi, karena energi positif kebahagiaan yang kita keluarkan pada saat kita memberi akan bergema dan kembali dengan impuls yang lebih besar kepada diri kita. Memberi bukan hanya terbatas pada uang atau harta. Perhatian, kasih sayang, sapaan hangat, sumbangsih pemecahan masalah, dan lain-lain, termasuk dalam kategori memberi. Nggak usah muluk-muluk jadi dermawan ke semua orang, hal-hal yang kita beri kepada keluarga (istri, suami, anak, kakak, adik, ortu) atau kepada rekan terdekat (pacar, teman dekat), rasanya sudah lebih dari cukup kalau bisa dilakukan dengan sepenuh hati.

Dengan ketiga hal itu, mudah-mudahan kita bisa mendekat ke fitrah awal kehidupan sebagai manusia seutuhnya, walaupun dalam kehidupan ini nggak ada yang sempurna, betullll . . . ?

Catatan :
Artikel ini tidak bertujuan untuk kotbah tetapi lebih sebagai sebuah sharing dan berbagi kasih, karena saya sendiri belum tentu bisa melakukan ketiga langkah tersebut dengan baik. Seperti kata seorang kawan, life is not a bed of roses, dan banyak faktor-faktor yang di luar kontrol kita dalam kehidupan ini.

Percaya sama takdir dan nasib nggak?









Baca Selanjutnya...

  © Blogger template AutumnFall by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP