Add to Technorati Favorites   Personal Blogs   Top Blogs   Blog directory   Blogs Topsites - TOP.ORG   Personal blogs & blog posts   kehidupan, hidup   Personal Blogs - BlogCatalog Blog Directory

10 Maret, 2009

Saham Dunia Bertumbangan, Kehidupan Semakin Susah

kehidupanAwal pekan ini dibuka dengan bertumbangannya indeks saham di bursa-bursa besar dunia, yang saya yakin akan diikuti oleh penurunan harga saham di Indonesia karena minimnya sentimen positif dari dalam negeri.

Selama lima bulan terakhir ini sejak Oktober 2009, ekonomi dunia terguncang, menggulirkan efek domino terbesar sejak Great Depression di Amerika pada tahun 1930. Nilai investasi portofolio tereliminasi sebesar 50 triliun US dollar sampai akhir tahun 2008, dan akan terus terdepresiasi sampai tercipta kestabilan baru.

Sebagai seorang awam di bidang ekonomi makro, tanpa data-data hasil analisis di tangan, hanya berbekal dasar teori yang saya dapat waktu kuliah dulu, saya mencoba menganalisa keadaan ekonomi pada saat ini secara umum, khususnya perekonomian Indonesia.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa krisis ekonomi global yang terjadi pada saat ini merupakan krisis keuangan yang paling serius, jauh lebih serius daripada krisis Asia pada tahun 1997. Krisis ini dipicu oleh kasus sub-prime mortgage di Amerika. bagi sobat yang belum begitu mengerti mengenai sub-prime mortgage crisis, saya coba terangkan sekilas sebagai berikut.

Sejak tahun 2001 - 2002, pada saat raksasa-raksasa dot com Amerika berkurang kontribusinya terhadap perekonomian domestik mereka, Amerika memulai suatu kampanye ekonomi dengan mengusung sebuah primadona baru, yaitu sektor perumahan (real estate). Berbagai kebijakan pemerintah dilakukan untuk mendorong berkembangnya sektor ini, para developer mendapat dukungan penuh dalam infrastruktur maupun promosi, dan isyu-isyu positif mengenai real estate mulai dihembuskan ke seluruh masyarakat Amerika.

Proyek ini berhasil dengan baik. Sejak tahun tersebut harga perumahan di Amerika terus mengalami kenaikan yang signifikan, orang-berlomba-lomba berinvestasi di bidang ini karena tingkat keuntungan yang menggiurkan, dan masyarakat umum Amerika mempergunakan housing loan untuk membeli rumah baru mereka. Sektor ini terus menggelembung, kewaspadaan dalam credit management menjadi merosot. Penduduk yang seharusnya hanya sanggup membeli sebuah rumah standar, diiming-imingi oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang "Quick Credit" untuk membeli rumah baru atau rumah yang lebih besar. Pada saat mereka bertanya darimana mereka akan dapat membayar angsuran rumah mereka, para agen kredit yang masih junior menjawab bahwa harga rumah akan terus naik, dan mereka dapat meng-agun-kan kembali (refinancing) rumah mereka dengan jumlah yang lebih besar 2 - 3 tahun kemudian, dengan keuntungan mendapatkan dana tunai untuk membayar kredit dan keperluan lain.

Akibatnya, eforia terjadi, konsumerisme meningkat, dan sektor perumahan menjadi primadona. Mulai tahun 2004 - 2005, karena perusahaan pembiayaan memerlukan dana, mereka menggabungkan kredit-kredit mereka dalam cluster-cluster dan menjualnya ke bank-bank di Amerika. Kemudian, para ahli keuangan di Wallstreet meluncurkan suatu ide baru, yaitu menggabungkan cluster-cluster kredit tersebut dalam satu lot wadah yang lebih besar, yang dinamakan surat "sub-prime mortgage". Surat ini diperjual-belikan melalui pasar saham dan dibeli oleh perusahaan-perusahaan investasi di seluruh dunia, dengan nilai kapitalisasi yang sangat besar, dan terus menggelembung nilainya dari waktu ke waktu karena harga perumahan yang terus meningkat.

Sebenarnya, sejak tahun 2006 sudah ada beberapa ahli yang menyatakan kekuatiran mereka akan eforia ini, namun kekuatiran mereka lenyap ditelan badai optimisme. Keadaan ini terus berlanjut hingga akhir tahun 2007.

Sesuai dengan hukum kehidupan, gelembung itu akhirnya pecah pada akhir tahun 2007. Jumlah pembayaran hutang yang semakin lama semakin besar tidak dapat ditanggung lagi oleh sebagian masyarakat Amerika, dan kredit macet di bidang perumahan mulai bermunculan. Keadaan semakin memburuk di tahun 2008. Pemerintah Amerika mencoba untuk mengatasinya secara internal, namun pasar keuangan yang bersifar global tidak dapat dipengaruhi terlalu banyak. Karena pesimisme mulai merebak, indeks saham mulai terganjal dan mengalami penurunan, hingga puncaknya pada bulan Oktober 2008, ketika beberapa bank investasi besar seperti Lehman Brothers mengalami kesulitan keuangan yang parah dan terjungkal, pasar uang dunia mengalami hentakan dan ikut terpuruk.

Karena penyebabnya bersifat fundamental, maka krisis terus berkembang dari krisis keuangan menjadi krisis ekonomi yang juga menyerang sektor real. Pengangguran meningkat, ancaman PHK menjadi besar, daya beli menurun, dan hal ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia karena Amerika menyumbang sekitar 30% dari PDB dunia, hingga saat ini.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Seperti negara-negara lainnya, sektor pertama yang terkena dampak langsung adalah pasar saham dan pasar uang. Investor-investor asing menarik dana mereka sehingga pasar mengalami bearish, dana di pasar uang menjadi sangat ketat khususnya pada kuartal empat 2008, indeks saham rubuh, dan rupiah loyo.

Mulai awal tahun 2009, sektor real mulai terkena dampaknya. Industri-industri dengan pangsa pasar utama Amerika dan Eropa seperti garmen, tekstil, sepatu, mengalami tekanan yang hebat karena terputusnya permintaan. Produksi jauh menurun di bawah kapasitas, yang menyebabkan kerugian usaha dan kesulitan keuangan. Bayang-bayang PHK massal mulai muncul. Karena perekonomian Indonesia pada dasarnya merupakan perekonomian yang terbuka dengan hubungan yang erat terhadap Amerika, baik secara langsung maupun melalui Jepang dan Eropa, lambat laun sektor lain pun mulai terkena imbas. Demikian satu hal menyebabkan lain hal, dan terus berputar dalam lingkaran, menyebabkan backward effect, dan pada saat ini kita tengah berada dalam pusaran tersebut, yang semakin lama semakin lebar.

Sebenarnya pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Beberapa paket kebijakan digulirkan, mulai dengan diturunkannya BI rate di sektor keuangan, penggunaan cadangan devisa di pasar uang, peraturan bursa saham. Sementara di sektor real, kebijakan-kebijakan mengarah kepada nasionalisasi ekonomi (artinya: supplai domestik diserap oleh demand domestik). Selain itu, akselerasi proyek-proyek infrastruktur juga dilakukan untuk menyerap lapangan kerja dan mempertahankan lapangan usaha, yang diharapkan memberikan multiplier effect ke seluruh sektor lainnya. Sementara, kerjasama penyediaan dana darurat juga dilakukan dengan negara-negara Asia lainnya.

Nah, sampai dengan saat ini, keadaan mungkin belum terlalu buruk, karena sebagian efek krisis ini masih dapat "ditahan" baik oleh pemerintah maupun para pengusaha Indonesia. Namun, menurut saya, keadaan seperti ini tidak akan berlalu dalam waktu yang singkat, dan sejauh manakah pemerintah serta pengusaha Indonesia mampu "menahan" beban mereka, sehingga krisis tindak merebak ke seluruh lapisan masyarakat bawah dan menimbulkan efek domino yang besar.

Saya memilih untuk tidak berkomentar akan hal ini. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha, agar krisis di Indonesia "hanya" sampai disini saja, dan kehidupan seluruh masyarakat Indonesia tidak menjadi lebih buruk lagi.

2 comments:

omiyan 13 Maret, 2009 08:38  

saya sendiri merasakannya setelah hitung-hitungan modal saya dah minus 45% hhmm, tapi bikin enjoy ajalah....toh masih ada waktu

mbah gendeng 27 Agustus, 2009 21:02  

wah nek masalah ekonomi aku c g begitu pintar cz bukan jalurnya tapi seneng aj mbaca2 masalah ekonomi terutama tentang ekonomi indonesia padahal negara besar yg kaya tapi kok terpuruk banget

Posting Komentar

  © Blogger template AutumnFall by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP